Gajah Putih Sang Raja
Sebuah kisah lembut tentang seekor gajah putih baik hati yang sangat menyayangi ibunya yang buta. Ketika seorang pengembara mengkhianati kebaikannya dengan menangkapnya untuk sang raja, kesedihan sang gajah menyentuh hati sang raja, yang kemudian mendorong sebuah tindakan welas asih yang menyatukan kembali keluarga dan menghormati kemuliaan sejati.
-
Dahulu kala, di sebuah hutan yang sunyi, hiduplah seekor gajah putih dan ibunya yang buta. Kulitnya seputih salju, dan hatinya penuh kebaikan. Ia merawat ibunya setiap hari.
Setiap pagi, ia mencari buah-buahan dan dedaunan. Ia membawanya kembali dengan belalainya dan meletakkannya di samping ibunya dengan lembut. Ia selalu berbicara dengan suara yang tenang dan penuh kasih.
Suatu hari, gajah itu mendengar seseorang menangis. Ia mengikuti suara itu dan melihat seorang pria duduk di dekat sebuah batu. Pria itu tampak lelah dan kurus.
Gajah itu menghampirinya dan bertanya dengan lembut, “Apakah kau terluka?” Pria itu mendongak dengan terkejut. “Aku tersesat,” katanya. “Aku tidak punya makanan atau air.”
“Ikutlah denganku,” kata gajah itu. “Aku akan membantumu.” Ia memberi pria itu buah dan menuntunnya ke sumber air. Kemudian, ia mengantarnya ke tepi hutan dan menunjukkan jalan menuju kota.
“Kau menyelamatkanku,” kata pria itu. “Aku tidak akan pernah melupakanmu.” Namun sesampainya di kota, sebuah ide baru muncul di benaknya. “Gajah putih itu langka,” pikirnya. “Raja pasti akan membayarku mahal.”
Ia memberitahu raja, “Seekor gajah putih tinggal di pedalaman hutan. Ia lembut dan bijaksana.” Raja pun penasaran. Ia mengutus anak buahnya untuk menemukannya. Mereka mengikatnya dengan tali dan membawa gajah itu ke istana.
Gajah putih itu tidak melawan. Namun ia tampak sedih. “Siapa yang akan memberi makan ibuku sekarang?” tanyanya dengan suara lirih. Tidak ada yang menjawab.
Di istana, gajah itu menolak untuk makan. Ia berdiri diam di taman, matanya penuh kesedihan. Raja menyadarinya.
Raja datang menemuinya. “Mengapa kau tidak mau makan?” tanyanya. Gajah itu menundukkan kepalanya. “Ibuku yang buta sendirian. Ia menungguku. Aku yang merawatnya.”
Raja terdiam sejenak. Lalu ia berkata, “Kau lebih mulia daripada banyak orang yang kukenal.”
Ia segera memberi perintah: “Kembalikan gajah ini ke hutan. Dan setiap minggu, bawakan makanan untuk ibunya.”
Gajah putih itu berjalan pulang dengan langkah penuh suka cita. Ketika ibunya mendengar langkah kakinya, ia tersenyum lebar. Ia tahu anaknya telah kembali.
Sejak hari itu, raja memanggilnya: Gajah Putih Berhati Emas.
© Hak Cipta 2024 - Giggle Academy
上海吉咯教育科技有限公司
Hak Cipta © 2026 - Giggle Academy
