

Dongeng rakyat yang menawan tentang Anansi si Laba-laba dan Kura-kura, yang mengajarkan pelajaran tentang sopan santun dan keadilan melalui pertemuan makan malam mereka yang jenaka. Kisah ini menggunakan bahasa yang sederhana dan humor yang ringan, sehingga cocok untuk anak-anak.
Suatu hari, Anansi si Laba-laba mendapatkan beberapa ubi yang lezat. Dia memasaknya dan membiarkannya dingin.
Saat itu, Kura-kura datang. “Halo, Anansi,” katanya. “Ubi itu baunya enak sekali.”
Anansi tersenyum. “Memang. Kamu datang tepat waktu untuk makan malam.” Kura-kura duduk di meja.
Tetapi saat Kura-kura mengulurkan tangan, Anansi menghentikannya. “Di rumahku,” katanya, “kami mencuci tangan sebelum makan.”
Kura-kura pergi ke sungai dan mencuci tangannya. Saat dia kembali, makanannya hampir habis.
Kura-kura tetap mengulurkan tangan. Tetapi sekali lagi, Anansi menghentikannya. “Cuci lagi! Tanganmu kotor.”
Kura-kura menghela napas, berjalan kembali ke sungai, dan mencuci tangannya lagi. Ketika dia kembali—Anansi telah memakan semua ubi.
Kura-kura tidak berkata apa-apa. Dia hanya berterima kasih kepada Anansi dan pergi.
Beberapa hari kemudian, Kura-kura mengundang Anansi ke rumahnya untuk makan malam. Anansi dengan senang hati menerimanya.
Kura-kura tinggal di bawah air. Anansi menyelam, tetapi dia terus mengapung kembali ke permukaan.
“Silakan bergabung denganku,” kata Kura-kura, yang duduk di meja di bawah. Anansi mencoba lagi—tetapi laba-laba itu ringan.
Dia tidak bisa tetap di bawah. Dia berenang dan memercikkan air, tetapi tidak bisa mencapai makanan.
Kura-kura mendongak. “Anansi, di rumahku, kami memakai cangkang yang berat.” Dia tersenyum sopan.
Anansi berenang ke tepi, mengambil batu yang berat, dan mengikatkannya pada dirinya sendiri. Dia langsung tenggelam ke dasar.
Sekarang Anansi meraih makanan— tetapi Kura-kura berkata, “Di rumahku, kami melepaskan cangkang kami sebelum makan.”
Anansi melepaskan batu itu, mengapung lagi, dan menyaksikan Kura-kura makan sendirian.
Ketika Kura-kura selesai, dia melambai ke Anansi. “Terima kasih sudah datang, teman.”
Anansi tidak berkata apa-apa. Dia telah belajar bagaimana rasanya ditipu.
Dan itulah mengapa Anansi lebih berhati-hati dengan sopan santunnya—terkadang.
© Hak Cipta 2024 - Giggle Academy
上海吉咯教育科技有限公司
Hak Cipta © 2026 - Giggle Academy